Slideshow Photo VEN-Nino Band

vennino's  album on Photobucket

Cari Blog Ini

Rabu, 29 Agustus 2012

Biografi | Katon Bagaskara

Assalamuallaikum...
Hai VENher's semuanya tanpa terkecuali...
Terbaru nich di hari ini, kali ini kita mau membahas Biografi Katon Bagaskara. Ini penting banget buat loe para penggemar Katon Bagaskara . Tunggu apa lagi sob, langsung aja nich di baca...


Katon Bagaskara lahir di Magelang, Jawa Tengah, 14 Juni 1966 dengan nama Ignatius Bagaskoro Katon. Sejak kecil, anak ke tiga dari pasangan AR. Djuano dan Agnes Sumarsih ini telah menunjukkan bakatnya. Kedekatannya pada puisi ternyata dipengaruhi oleh sang Ibu yang selalu mendorong bakat seninya, dari sinilah kecintaan akan karya puisi muncul dan bertumbuh.

Ketika Katon masih kecil, ia sering bertanya-tanya; mengapa banyak penyanyi cilik seusianya – sering ia lihat di televisi – menyanyikan lagu yang tidak diciptakan mereka sendiri. Itulah saat pertama yang menjadi pemicu bagi Katon kecil untuk mengekspesikan dirinya dan mulai mencipta lagu-lagunya sendiri. Lagu pertama yang diciptakannya adalah lagu untuk sang kakek yang telah tiada. Dengan menggunakan piano kayu kecil, Katon yang saat itu masih kelas IV SD menciptakan lagu itu; untuk mengenang kebersamaan yang pernah ada di antara mereka.

Katon belajar bermain gitar dari kakak tertuanya, Andre Manika. Secara otodidak, ia berlatih terus dan mulai mencipta lagu dengan gitarnya. Pada awal-awal ia menulis lagu, seringkali Katon cukup terpengaruh oleh beberapa musisi senior, baik itu dari negeri sendiri maupun luar negeri. Sebagai contoh, Ebiet G. Ade untuk penulisan lirik, Fariz R.M untuk trend musik, Koes Plus dan juga The Beatles – sebagai inspirator-inspirator Katon dalam mencipta lagu. Semua ini membentuk karakteristik musikal Katon Bagaskara. Meski begitu, hal ini bukan berarti Katon menjiplak ‘gaya’ mereka secara mentah-mentah.
Lambat laun, di masa-masa SMA, Katon telah menemukan karakter musikalitasnya sendiri, di antaranya adalah : lirik yang filosofis, estetis dan romantis. Ternyata kedekatan Katon pada puisi sejak masa kecil, menjadikannya terpengaruh dengan gaya penuturan lirik-lirik lagu yang puitis. Dengan demikian lirik-lirik lagu Katon kendati beberapa terbaca lugas, namun menyiratkan kadar estetika dan makna yang mendalam. Inilah yang menjadi kekuatan sekaligus jati diri Katon sebagai seorang musisi Indonesia

Pada bulan Oktober di tahun 1996, Katon menikah dengan Ira Wibowo, seorang aktris dan juga presenter. Lengkaplah sudah kebahagiaan Katon untuk membentuk sebuah keluarga yang bahagia. Bersama dengan putri pertamanya – Chika Putri Bagaskara; Katon dan Ira meniti kehidupan baru mereka, dan dari pernikahan tersebut Katon memberi Chika seorang adik laki-laki : Andhika Radya Bagaskara.

Saat ini Katon Bagaskara telah menuai hasil dari perjalanan hidupnya, menjadi seorang pekerja seni yang banyak dikenal masyarakat, vokalis KLa Project sekaligus penulis lirik yang memiliki kelebihan tersendiri.

Katon Sejak kecil cita-cita Katon adalah ingin menjadi diplomat. Namun cita-cita tersebut diurungkan karena situasi dan kondisi yang memaksanya untuk bekerja. Katon pun mencoba melamar ke beberapa perusahan. Salah satu perusahaan yang menerima dan menempatkan Katon sebagai salah satu karyawannya adalah Perusahaan Penerbangan Garuda. Kemudian sejak tahun 1987, Katon bekerja sebagai cabin crew, atau lazimnya disebut pramugara.

Jiwa seniman yang terpupuk sejak kecil rupanya tidak dapat diredam begitu saja, kendati ia telah menjalani karir sebagai seorang pramugara. Akhirnya bersama dengan beberapa teman, Lilo, Adi dan Ari; Katon membentuk sebuah kelompok musik. Kelompok ini dinamakan KLa Project, yang merupakan kependekan dari nama-nama personilnya.

Bermodal uang tabungan yang secukupnya, kelompok ini masuk studio rekaman untuk membuat ‘sample’. Kemudian hasil rekaman tersebut diterima oleh produser, dan jadilah single tentang kita yang termuat dalam album 10 Bintang Nusantara pada tahun 1988.

Sejak single Tentang Kita inilah, nama KLa Project mulai berkibar. Lagu-lagu mereka mulai disukai masyarakat, khususnya para remaja. Kendati warna musik mereka cukup baru dan berbeda di telinga masyarakat awam, namun kehadiran mereka justru menimbulkan keunikan di tengah alunan musik pop yang mendayu-dayu atau musik rock yang hingar-bingar. Beberapa pengamat musik, baik musisi maupun kritisi, cukup merasa sulit untuk mengelompokkan ke arah mana musik KLa Project. Apapun komentar para kritisi, KLa Project lebih mengklaim kelompoknya sebagai kelompok yang mengusung warna musik inovatif, musik yang progress, selalu mengikuti jaman.

Seiring tenarnya KLa Project, tentu tawaran untuk pentas dan promo-tur ke berbagai kota selalu datang kepada mereka. Hal ini tentu saja mengganggu karir pramugaranya. Katon yang sempat merasa bimbang untuk menentukan pilihan karirnya, akhirnya memutuskan untuk memilih musik sebagai jalan hidupnya. Alasan Katon, ia lebih mencintai karir sebagai musisi; meski karirnya yang dulu sebagai pramugara telah menjanjikan terpenuhinya segala kebutuhan materi Katon. Alasan inilah yang akhirnya membawa Katon Bagaskara meraih sukses sebagai musisi. Katon benar-benar mencintai karirnya sebagai seorang musisi, dan ia merasa ada totalitas di dalam karir tersebut.

Kepopuleran Katon Bagaskara mengundang simpati produser sinetron, yang kemudian menawarinya untuk mengambil satu peran dalam sebuah sinetron. Katon mengambil kesempatan itu untuk mengetahui bagaimana para pekerja seni di bidang sinetron itu bekerja. Kendati dunia sinetron Indonesia juga banyak memberi janji kepopularitasan, Katon yang pada dasarnya musikus tidak memandang dunia tersebut sebagai jalan karir bagi dirinya, sehingga ia tetap menggeluti dunia yang sangat ia cintai, yaitu bermain musik.

Karir bermusiknya juga membawa Katon mencoba menjadi produser musik. Penyanyi yang diproduserinya adalah Nugie, sebanyak tiga buah album (Bumi, Air dan Udara). Tidak hanya menjadi produser, Katon pun pernah menjadi penata vokal dan juga memberikan lagu-lagunya untuk dinyanyikan oleh penyanyi lain.

Sampai saat ini, KLa Project telah mengeluarkan delapan buah album, ditambah 2 buah album kompilasi lagu-lagu terbaik mereka. Katon bersama KLa Project telah satu dekade berkarir di bidang musik, sejak mereka menelurkan single di tahun 1988 yang lalu. Sudah banyak prestasi yang telah mereka raih; dari mulai BASF Award, hingga Video Musik Indonesia. Salah satu penghargaan yang membuat KLa Project dan juga Katon Bagaskara sebagai pribadi bangga dengan karyanya, adalah ketika Sri Sultan Hamengkubowono X memberikan penghargaan untuk karya lagunya yang berjudul Yogyakarta.

Untuk solo karirnya, Katon telah mengeluarkan tiga buah album (Album Katon Bagaskara, Gemini, dan Harmoni Menyentuh). Tahun 1996, Katon juga membukukan puisi-puisinya yang diberi judul Bulan dibuai Awan. Buku tersebut merupakan sebagian dari lirik-lirik puitisnya yang dikemas dalam bentuk sebuah buku seni dengan ilustrasi bernuansa artistik dan estetis.
Tahun 2003 ini, Katon mengeluarkan album ke-enamnya yang bertajuk “Percaya Saja”.

Di awal tahun 1999, karya seni Katon Bagaskara ternyata menggugah seorang mahasiswa Filsafat Universitas Gadjah Mada untuk menjadikannya sebagai subjek penulisan skripsi. Proses dan latar belakang penciptaan karya seninya, menjadi tema sentral yang diangkat mahasiswa tersebut. Kemudian di awal tahun 2000, langkah serupa juga dilakukan oleh seorang mahasiswi Sastra – juga dari universitas yang sama – yang mengangkat buku kumpulan puisi ‘Bulan dibuai Awan’ untuk ditelaah dalam konteks ilmu sastra. Ada kebanggaan tersendiri bagi Katon ketika karya seninya juga diangkat dan dibicarakan dalam mimbar ilmiah dan bukan lagi dalam panggung hiburan semata.

Saat ini Katon Bagaskara juga mengasuh satu portal musik di situs web www.detik.com, sebuah rubrik tanya jawab tentang dunia musik yang berkaitan dengan jenis musik, bermain musik, menyanyi dan segala pernik-perniknya.

Sumber : indonesiantunes.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar